Teluk Simung

Teluk Simung
Lokasi Kampung Simung Kec. Tabukan Selatan

Selasa, 02 November 2010

ASAL USUL ORANG SANGIHE TALAUD


Dikisahkan bahwa di Kotabato ada sebuah kerajaan yang berdiri pada abad ke 12, dengan raja (sultan)  Timudai/Tuwondai dengan permaisuri bernama Bintang Keramat berasal dari  kerajaan Ternate. Raja  Timudai dan permaisuri Bintang Keramat di karuniai seorang anak bernama Gumansalangi. Pangeran Gumansalangi memiliki sifat yang buruk, karena sering melakukan kesalahan akhirnya di hukum oleh raja (ayah) lalu di asingkan ke tengah hutan belantara dekat sebuah danau di Meranao atau Maranaw (Mindanow) Philipina. Dalam pengungsian pangeran baru menyadari akan tabiatnya yang buruk, sambil menagis-nangis meraung-raung menyesali perbuatannya. Tangisan pangeran terdengar sampai ke khayangan, dan terdengar oleh raja khayangan. Mendengar tangisan itu raja kayangan turun kebumi mengikuti arah sumber suara tersebut. Sampai kebumi raja melihat ternyata tangisan tersebut berasal dari seorang pemuda yang berada di hutan. Kemudian raja kembali ke khayangan dan berkata kepada putri-putrinya siapa yang mau bersedia turun kebumi menyelidiki pangeran Gumansalangi. Mulai dari yang tertua sampai kepada yang bungsu. Si bungsu bersedia melaksanakan amanat ayah/raja khayangan, tetapi kakak-kakaknya menolak. Maka turun putri bungsu ke bumi dan meyamar dengan berwujud wanita berpenyakit kulit akut yang sangat berbau busuk. Bau tersebut tercium oleh pangeran lalu mengikuti arah sumber bau tersebut. Tiba di tempat itu ternyata sumbernya dari seorang wanita berpenyakit kulit akut. Gumansalangi merasa iba, lalu menawarkan untuk tinggal bersamanya, akan tetapi wanita itu menolaknya. Pangeran terus mendesak wanita itu, dan akhirnya ia setuju. Setelah tiga hari mereka tinggal serumah tiba-tiba sang wanita menghilang kembali ke khayangan. Sang putri melaporkan kepada raja bahwa pangeran Gumansalangi telah berubah menjadi orang yang baik. Raja khayangan tidak percaya begitu saja, kembali ia memerintahkan putrinya untuk kembali ke bumi pada pangeran Gumansalangi. Sang Putri kembali melaksanakan titah raja lalu menyamar kembali dengan wujud wanita berpenyakit kulit akut dan berbau busuk. Kembali sang pangeran mencium bau busuk lalu mengikuti arah sumber bau tersebut, dan menyaksikan lagi seorang wanita yang berpenyakit kulit akut. Pangeran menawarkan untuk tinggal bersama, tetapi wanita itu menolak. Tetapi karena pangeran terus mendesaknya akhir ia setuju juga. Maka tinggalah mereka bersama lagi namun pada hari ketujuh sang putri menghilang pergi ke khayangan untuk menemui ayahnya. Sang Putri berkata kepada ayahnya bahwa pangeran benar-benar sudah berubah menjadi orang yang baik budi pekertinya. Sang raja khayangan menjawab anaknya agar ia kembali kepada pangeran Gumansalangi untuk mengabdi sepanjang hidupnya. Putri tersebut bernama Putri Konda turun ke bumi dengan wujud aslinya yaitu sebagai seorang Putri/Peri yang sangat cantik dan bercahaya gilang-gemilang serta memancarkan aroma yang wangi. Pangeran mencium aroma tersebut dan menelusuri arah sumber wangi tersebut. Ketikaia tiba ditempat tersebut menyaksikan seorang Putri yang sangat cantik dan bersinar-sinar serta wangi aromanya. Maka pinsanlah sang pangeran, lalu sang putri memetik kembang Melati dan merendam dengan air dalam telapak tangannya kemudian diperciknya pada sang pangeran. Pangeran menjadi sadar (siuman) lalu meminta maaf kepada san putri karena sudah merepotkan. Sang putri menjawab " itu tidak masalah"  Kemudian sang pangeran berkata " aku tidak pantas menjadi teman putri cantik sebab aku hanya seorang yang berperangai buruk. Tetapi Putri Konda Wulaeng menjawab " aku telah diperintahkan oleh raja khayangan untuk mengabdi kepadamu seumur hidup, dan harus meninggalkan daerah ini, kita harus mencari tempat tinggal yang baru. Apabila kita sampai pada suatu tempat lalu terjadi hujan sangat deras dibarengi kilat dan gemuruh serta petir saling menyambar di tempat itulah kita harus tinggal dan menetap. Kita akan di bantu oleh abangku Bawangung-Lare yang akan menyamar menjadi seekor ular besar sakti (Dumalobang) yang bisa terbang untuk dinaiki. Maka berangkalah mereka dengar menunggangi seekor ular terbang sakti. Mula-mula mengintari Kotabato sebanyak tiga kali pada tengah malam. Kemudian Gumansalangi dan Putri Konda Wulaeng berangkat menuju arah selatan lalu tiba di Pulau Manaraouw yang berarti sangat jauh, di tempat ini mereka tidak menemukan tanda-tanda seperti yang telah diamanatkan oleh raja khayangan. Lalu berangkatlah mereka tetapi dalam perjalanan mengalami hambatan cuaca berkabut dan gelap-gulita serta suhu sangat dingin. Mereka mengurungkan perjalanan lalu kembali dan tiba di sebuah bukit  dan membuat api unggun. Tempat tersebut diberi nama Gahenang/Mahenang berarti api yang menyala kemudian di sebut Wenang. Mereka sangat mengharapkan tanda di tempat itu, akan tetapi tidak kunjung nampak. Kembali lagi melanjutkan perjalan lalu tiba di suatu pulau dan diberi nama Mandolokang sekarang Tagulandang, mereka tinggal beberapa hari  serta melakukan perjalan mendaki gunung berapi di pulau Ruang, akan tetapi tidak ada tanda-tanda juga. Sehingga mereka turun kembali dan melanjutkan perjalanan lalu tiba di pulau Karangetang(Siau) disitu mereka mendaki gunung Tamata, mereka tinggal disitu beberapa malam, akan tetapi tidak ada tanda-tanda seperti yang dipesan oleh Raja Khayangan. Sehingga mereka turun lalu terbang menuju sebuah pulau besar lalu tiba di pulau Tampung Lawo (Sangir Besar). Ditempat ini mereka mendaki sebuah gunung Sahendarumang. Tiba di puncak gunung menreka diliputi oleh awan dan kabut tebal kemudian menjadi hujan deras. Kemudian kilat terlihat dan bunyi guruh terdengar lalu petir saling menyambar itulah yang mereka saksikan bersama penduduk selama tiga hari tiga malam. Lalu mereka menyimpulkan " inilah daerah/tempat tinggal yang baru", kemudian turun ke arah timur menyusuri aliran sungai Balau. Di tempat ini bereka dieluk-elukan, dan diusung dengan tangan lalu diagungkan, lalu tempat ini disebut Moade artinya pengagungan dikemudian hari tempat ini menjadi asal penyebaran penduduk sangihe hingga disebut Salurang berasal dari kata salur. Gumansalangi di beri gelar Yang Dipertuan Agung (YPA) Medelu titisan Dewa Guruh dan Putri Konda Wulaeng diberi gelar Mekila artinya Putri kilat. Keduanya diangkat menjadi Raja Pertama dan Permaisuri Kerajaan Tampung Lawo. Kerajaan ini berdiri pada permulaan abad ke 13, raja pada saat itu disebut Kulano. Pangeran pergi ke daerah Talaud menikah dengan Bokimawira di pulau Kabaruan  lalu menetap di tempat bernama Pangeran dimana terdapat bekas ular yang menjalar menjelma jadi manusia. Madelu atau Gumansalangi meninggal di Mindano karena ia kembali ke negeri asalnya pada usia lanjut. Kerajaan di perintah oleh anaknya yang bernama Melintang-Nusa dengan istri bernama Putri Hiabe dari Mindanao anak perempuan dari raja Tugise. Adiknya Meliku Nusa pergi ke Bolaang Mongondow lalu menikah dengan putri Mongondow yang bernama Menong Sangiang. Kemudian Melintang Nusa pergi ke Mindanao lalu meninggal disana kerajaan diperintah oleh putranya yang bernama Bulegalangi dan anak-anaknya yang lain tersebar diseluruh Sangihe. Seperti Putri Siti Bai menjadi istri Balang Naung dan Aholiba dipersunting oleh Mengkang Nusa lalu tinggal di Tariang Lama. Putranya Pahawonseke tinggal di Sahabe(Soa Tebe) dan mendirikan kerajaan. Tapi anaknya yang bernama Matang Datu berdiam di Salurang serta membangun suatu kerajaan dengan dibantu oleh anak-anaknya sendiri yakni Makalupa, Ansiga dan Tangkuliwutang. Mereka adalah pemberani Salurang, ia juga mempunyai putri bernama Talongkati bahkan lebih berani dari saudara-saudaranya. Talongkati dijuluki dengan gelar Bawu-Mahaeng. Tangkuliwutang memperanakan Makaampo yang kemudian menjadi pejuang Sangihe yang gagah berani, dan berhasil mempersatukan kerajaan Sahabe dengan kerajaan Salurang. Bawangung Lare kakak dari Putri Konda yang menyamar dengan wujud ular, melanjutkan perjalanan menuju Taloda (Talaud)  lalu naik ke puncak gunung Taiang kemudian membangun rumahnya di Porodisa (pulau Kabaruan). Pangeran Bawangung Lare menikah dengan Bokimawira tempat itu di berinama Pangerang. Tempat tersebut masih ada bekas ular menjalar dimana Bawangung Lare berubah wujud menjadi seorang pemuda tampan.
Demikianlah nenek moyang orang Sangihe Talaud, berasal dari Kotabato Mindanao (Philipina).